Archive for the ‘Testimoni’ Category

Jaunty Jackalope dan Upaya Pembebasan Mitos Pembajakan

Monday, September 14th, 2009

Ternyata ada untungnya juga jadi orang nekad. Nekad untuk bisa secepatnya terlepas dari cengkeraman perangkat lunak berharga setinggi langit dari sang jendela yang bertahun-tahun lamanya telah melahirkan jamaah pembajak. Ya, ya, ya, harga produk-produk microsoft yang terbilang mahal, disadari atau tidak, justru telah membuka peluang pembajakan perangkat lunak sebagai sebuah budaya. Orang merasa tidak risih ketika perangkat lunak yang digunakan sejatinya merupakan produk tak halal dan nyata-nyata telah melanggar hak cipta.
Dalam kondisi demikian, sungguh sebuah terobosan yang menarik apabila penggunaan software open source terus digalakkan, utamanya kalangan kelas menengah ke bawah yang selama ini telah ikut terperangkap dalam sebuah imperium penjajahan yang “dengan sengaja” dilakukan oleh kaum pemilik modal.
Setelah nekad dan terus “terprovokasi” oleh beberapa teman yang sudah terlebih dahulu melenggang memaknai kebebasan dengan menggunakan perangkat lunak open-source, akhirnya saya berhasil juga melakukan migrasi. Pilihan jatuh pada software Ubuntu 9.04 yang menggunakan codename “Jaunty Jackalope”. Sebagai pengguna baru, pemilihan perangkat lunak itu bukan lantaran saya bisa membandingkan kelebihan dan kekurangan sebuah software, melainkan semata-mata nekad saja. Penginstalan Ubuntu 7.10 Gutsy Gibbon pernah memberikan pengalaman buruk buat pengguna perangkat IT yang gaptek seperti saya. Saya terpaksa beralih ke jendela karena fitur dan fasilitas yang ditawarkan belum sepenuhnya mendukung kinerja PC saya, mulai driver sound, video, printer, dan perangkat lunak yang lain.
Ubuntu 9.04 Jaunty Jackalope benar-benar mengubah pandangan saya tentang software open-source. Fitur dan perangkat yang ditawarkan sungguh membuat saya jatuh cinta. Ia tidak saja membebaskan saya dari mitos pembajakan, tetapi juga membuat saya bebas menikmati kemudahan-kemudahan dalam menginstal perangkat pendukung sistem operasi di netbook yang saya gunakan. Melalui terminal, synaptic, update manager, atau add/remove, saya bisa dengan mudah menginstalasi perangkat pendukung kinerja komputer. Kemudahan ini juga saya peroleh berkat “kemauan baik” sahabat-sahabat pengguna open source yang mau membangun semangat berbagi dan share dalam mengoptimalkan kinerja sofware open source dalam sistem operasi komputer. Saya bisa dengan mudah menemukan tulisan dan tutorial open source itu lewat search-engine.
Terima kasih sahabat-sahabatku yang telah membuka mata fisik dan batin saya untuk tidak terus-terusan terperangkap dalam mitos pembajakan perangkat lunak dari tahun ke tahun.

Artikel ini kiriman dari pak guru Sawali Tuhusetya melalui email ke Andy MSE. Selanjutnya, beliau akan bergabung sebagai kontributor Solve With IT.

From Windows to Ubuntu

Saturday, August 22nd, 2009

Saya berkenalan dengan Linux adalah sekitar tahun 2007 lalu, yakni berkenalan dengan Mandriva. Diperkenalkan oleh Blogger Nasional. Akan tetapi saya pada waktu itu masih belum bisa menikmati keunggulan open source daripada Windows. Banyak hal pekerjaan bersentuhan dengan aplikasi mesin Jendela tersebut. Akhirnya, Mandriva-pun cuman bertahan saja di laptop tanpa pernah saya sentuh, sampai akhirnya laptop dipakai oleh orang lain dan saya berganti laptop yang murni 100% ber-Jendela.

Baru pada beberapa bulan lalu saya kembali tertarik dengan open source. Pilihan jatuh ke Ubuntu. Dan atas bantuan Blogger Nasional pula saya menginstal laptop ini dengan Ubuntu 9.04 agar tetap bisa dual-boot dengan Windows, sebab ada pekerjaan tertentu yang harus ber-Jendela. Semakin menyelam saya semakin tertarik dan semakin penasaran saja. Dan meski baru seumur jagung menggunakan Ubuntu saya dapat katakan lebih enakan pake ini dech. Lho kok bisa?

Pertama, no virus. Saya sering berhubungan dengan flashdisk karena memang selalu terjadi perpindahan data dari laptop teman-teman ke saya. Flashdisk yang dipakai sebagai tidak semuanya steril virus, dan komputer kantor harus diinstall ulang berkali-kali gara-gara virus itu. Dengan open source, virus Windows tidak bisa berjalan. Jika di dalam flashdisk ada aplikasi yang mencurigakan langsung saja saja pithes. Namun ini menjadi kelemahan pengguna open source karena tidak pernah tahu virus teranyar dan anti virus apdetan terbaru (rofl)

Kedua, memudahkan pengguna. Proses instalasinya lebih cepat dari pada Windows, hanya butuh waktu kurang dari 30 menit, bandingkan dengan Windows yang butuh hampir 2 jam. Dan ketika menginstall Ubuntu, saya tidak perlu mengintall driver tambahan untuk hardware dan software standar untuk bekerja. Artinya begitu selesai instalasinya bisa langsung dipakai, bahkan beberapa hardware yang tidak jalan di Windows bisa berjalan lancar disini. Ketiga, mudah dioprek dan enteng. Kustomisasi pada Linux mudah dilakukan dan tidak memakan resource seperti di Windows. Seperti mengubah theme, mengubah compiz dekstop maupun menambahkan aplikasi lain seperti conky dll. Mudah dilakukan dan banyak petunjuknya bertebaran di internet. Dan yang penting tidak memakan resource dan memory sehingga tidak bikin lambat laju mesin. Keempat, lebih fleksibel dan kompatibel. Artinya, software aplikasi berbasis Windows dapat dibukak disini dan bahkan dapat dieksekusi dan jalankan juga.

Kelima, gratis dan bebas dosa. Yang namanya gratisan memang nyenengkeh. Semua software aplikasi disediakan bebas digunakan dan bebas diotak-atik sendiri. Kenapa bebas dosa? Karena gratis maka bebas diambil dan digunakan tanpa harus membajaknya. Tanpa membajak berarti tidak mencuri. Tidak mencuri maka tidak berdosa. Itulah alasan saya mengapa ber-urbanisasi dari Windows ke Ubuntu, sebagaimana prinsip urbanisasi adalah mencari yang lebih baik. Dari “pelosok desa” pindah ke “kota”.

juga dipublikasikan disini

Instal Ubuntu 9.04 di Laptop Axioo

Monday, August 10th, 2009

Sebelumnya, Babeh adalah pengguna setia windows xp, sejak pertama muncul sampai sekarang, sejak pake yang bajakan sampe bela-belain beli yang original. Sebenarnya sudah sejak lama saya tertarik dengan linux tetapi tidak tahu cara memilih distro linux yang paling cocok dan paling mudah digunakan untuk pemula dan gaptek seperti saya. Setelah meminta petunjuk dari Kang Pradna dan mendapat dukungan dari Kang Endar, akhirnya saya memutuskan untuk menginstal distro linux ubuntu 9.04 jaunty jackalope pada si lepi leptop butut kesayangan saya.

Supaya tidak lupa, saya dokumentasikan cara instal ubuntu 9.04 di laptop Axioo TVW cara pemula, siapa tahu juga bisa bermanfaat bagi yang lain.

Langkah-langkah instalasi ubuntu 9.04 yang saya lakukan adalah sebagai berikut: (more…)