Author Archive

Aksi-aksi Pendekar Open Source di Lembah Google

Sunday, October 11th, 2009

Siapa bilang software open source sulit diaplikasikan sebagai sistem operasi komputer kita? Siapa pula bilang driver-driver pendukung operasi sulit diinstal? Cobalah sesekali pergi ke lembah google! Masukkan kata kunci semacam open source, linux, ubuntu, dan sejenisnya di search engine! Di sana, kita akan menyaksikan kiprah para pendekar open source yang siap berbagi dengan berbagai jurus jitu dalam mengoptimalkan penggunaan software yang bebas dan terbuka itu. Jurus apa pun bisa kita adaptasi dan kita terapkan untuk mengoptimalkan kinerja komputer yang berbasis open source.

screenshootscreenshootscreenshoot

Terhitung sudah lebih dari tiga pekan saya menikmati ubuntu 9.04. Dengan menggunakan ext4 sebagai file system-nya, kinerja netbook jadi lebih cepat loadingnya. Saya hampir tidak menemukan kendala yang cukup berarti dalam mengupdate fitur dan software yang ada. Dengan menggunakan fitur update manager, semua software mutakhir bisa kita nikmati dengan mudah dan nyaman, tanpa dirisaukan ancaman virus yang selama ini masih menjadi hambatan bagi pengguna windows. Atau, bagi pengguna ubuntu yang suka menggunakan papan terminal bisa merapal –meminjam istilah Mas Suryaden– mantra-mantra jitu untuk menginstal maupun meng-update software.

Demikian nyamannya menggunakan ubuntu, sampai-sampai saya telah nekad memutuskan untuk menggunakan 100% booting open source. Kendala driver sound, video, atau printer yang selama ini saya rasakan, kini sudah tak ada lagi. Dengan mengadaptasi jurus-jurus sakti para pendekar open source di lembah google, saya bisa melepaskan diri dari cengkeraman software OS berharga mahal. Saya bisa dengan mudah dan nyaman menikmati koleksi video dan MP3 lewat Movie Player. Untuk memodifikasi gambar, saya bisa menggunakan GIMP Image Editor. Hmmm … apalagi yang kurang, ya, untuk aplikasi sederhana yang selama ini saya pakai?

Memang harus diakui, menggunakan software open source butuh tekad dan kemauan untuk belajar. Ia tidak sama dengan windows yang semuanya sudah siap pakai. Oleh karena itu, saya juga telah nyantrik di komunitas Solve With IT, tempat nongkrong para pendekar perlinukan, semacam Mas Pradna, Mas Andy MSE, Mas Suryaden, Mas Mahendra, Mas Ciwir, Mas Felani, Mas Agus, Mas Dwi, Mas Iqbal, Mas Endar, Mas Luky, Mas Nuruli, atau teman-teman pengguna open source yang lain, untuk ngangsu kawruh dalam merapal mantra dan menerapkan jurus-jurus jitu perlinukan. Di padepokan inilah saya bisa leluasa memelototi jurus-jurus sakti sang pendekar, meski saya harus menahan rasa malu, karena sekali pun belum pernah bisa mengembangkan jurus-jurus sakti yang mereka ajarkan.

Ayo, siapa lagi mau menyusul? ***

Jaunty Jackalope dan Upaya Pembebasan Mitos Pembajakan

Monday, September 14th, 2009

Ternyata ada untungnya juga jadi orang nekad. Nekad untuk bisa secepatnya terlepas dari cengkeraman perangkat lunak berharga setinggi langit dari sang jendela yang bertahun-tahun lamanya telah melahirkan jamaah pembajak. Ya, ya, ya, harga produk-produk microsoft yang terbilang mahal, disadari atau tidak, justru telah membuka peluang pembajakan perangkat lunak sebagai sebuah budaya. Orang merasa tidak risih ketika perangkat lunak yang digunakan sejatinya merupakan produk tak halal dan nyata-nyata telah melanggar hak cipta.
Dalam kondisi demikian, sungguh sebuah terobosan yang menarik apabila penggunaan software open source terus digalakkan, utamanya kalangan kelas menengah ke bawah yang selama ini telah ikut terperangkap dalam sebuah imperium penjajahan yang “dengan sengaja” dilakukan oleh kaum pemilik modal.
Setelah nekad dan terus “terprovokasi” oleh beberapa teman yang sudah terlebih dahulu melenggang memaknai kebebasan dengan menggunakan perangkat lunak open-source, akhirnya saya berhasil juga melakukan migrasi. Pilihan jatuh pada software Ubuntu 9.04 yang menggunakan codename “Jaunty Jackalope”. Sebagai pengguna baru, pemilihan perangkat lunak itu bukan lantaran saya bisa membandingkan kelebihan dan kekurangan sebuah software, melainkan semata-mata nekad saja. Penginstalan Ubuntu 7.10 Gutsy Gibbon pernah memberikan pengalaman buruk buat pengguna perangkat IT yang gaptek seperti saya. Saya terpaksa beralih ke jendela karena fitur dan fasilitas yang ditawarkan belum sepenuhnya mendukung kinerja PC saya, mulai driver sound, video, printer, dan perangkat lunak yang lain.
Ubuntu 9.04 Jaunty Jackalope benar-benar mengubah pandangan saya tentang software open-source. Fitur dan perangkat yang ditawarkan sungguh membuat saya jatuh cinta. Ia tidak saja membebaskan saya dari mitos pembajakan, tetapi juga membuat saya bebas menikmati kemudahan-kemudahan dalam menginstal perangkat pendukung sistem operasi di netbook yang saya gunakan. Melalui terminal, synaptic, update manager, atau add/remove, saya bisa dengan mudah menginstalasi perangkat pendukung kinerja komputer. Kemudahan ini juga saya peroleh berkat “kemauan baik” sahabat-sahabat pengguna open source yang mau membangun semangat berbagi dan share dalam mengoptimalkan kinerja sofware open source dalam sistem operasi komputer. Saya bisa dengan mudah menemukan tulisan dan tutorial open source itu lewat search-engine.
Terima kasih sahabat-sahabatku yang telah membuka mata fisik dan batin saya untuk tidak terus-terusan terperangkap dalam mitos pembajakan perangkat lunak dari tahun ke tahun.

Artikel ini kiriman dari pak guru Sawali Tuhusetya melalui email ke Andy MSE. Selanjutnya, beliau akan bergabung sebagai kontributor Solve With IT.