Author Archive

Easy Peasy, Ubuntu untuk Netbook

Saturday, October 17th, 2009

Oleh-oleh Andy MSE dari Gunung Kelir:

Kesuksesan pak Sawali Tuhusetya menggunakan Ubuntu 9.04 membuat saya mikir-mikir, apa nggak terlalu kecil menu-menu Ubuntu di layar se-mini punya netbook itu? Ini menjadikan saya penasaran untuk mencari-cari distro Linux untuk netbook yang cukup powerfull.

Pada waktu menikmati banjir benwit di Gunung Kelir beberapa waktu lalu, saya sempat mengunduh Easy Peasy update terbaru 31 Agustus 2009 yaitu Easy Peasy 1.5 yang berbasis pada Ubuntu 9.04. Saya pun menginstallnya di laptop jadul Acer Travelmate 2423 menggunakan ISO sebesar 825.2MB yang saya masukkan ke dalam startup flashdisk.   Senyampang Ubuntu 9.10 masih dalam penantian selama beberapa hari ke depan, tidak ada salahnya mencoba Easy Peasy 1.5 ini. Lagipula rilis Easy Peasy biasanya diterbitkan lebih lambat 1-2 bulan mengikuti Ubuntu, induknya.

Easy Peasy adalah distro Linux untuk netbook yang dikembangkan di Norwegia oleh Jon Ramvi sejak Desember 2007. Awalnya bernama Ubuntu Eee yang merupakan modifikasi Ubuntu untuk mendukung Asus EeePC. Setahun kemudian, barulah berganti nama menjadi Easy Peasy, sebagai tindak lanjut atas komplain dari Canonical kepada Jon Ramvi pada 10 September 2008 berkaitan dengan penggunaan nama, logo, url, dan merek dagang.

Ini justru meneguhkan Easy Peasy berdiri sebagai distro tersendiri yang berbasis Ubuntu dengan rilisnya yang pertama Easy Peasy 1.0 pada 5 Januari 2009.

inside-my-computer

Walaupun tetap berbasis pada Gnome, tampilan antarmuka Easy Peasy yang disebut Netbook Remix, sangat cocok untuk laptop mini yang berlayar kecil. Ikon-ikon menu tertata rapi di kiri dan kanan desktop tidak perlu nge-klik ikon menu di panel. Ikon-ikon aplikasi akan muncul di bagian tengah mengikuti klik ikon menu di sebelah kiri, sedangkan klik ikon menu di sebelah kanan akan memunculkan jendela. Pada sceenshot di atas, karena Travelmate itu bukan netbook, tampilan Easy Peasy  tampak longgar di layar berukuran 14.

Easy Peasy 1.5 update terbaru ini membawa sejumlah perbaikan termasuk banyak paket aplikasi aktual seperti OpenOffice 3.1 dan kernel Linux 2.6.30. Pengguna Easy-Peasy pun dapat memanfaatkan repositori Ubuntu untuk melakukan pembaruan/update. Saat ini sudah tersedia versi 1.6 (unstable), dan pengembangnya merencanakan versi Easy Peasy 2.0 yang nantinya memiliki fitur baru seperti Social Desktop, Single-Sign-on dan sinkronisasi data dengan sistem lain.

Berikut ini spesifikasi Easy Peasy:

Perusahaan/pengembang: easypeasy community, Keluarga OS: Unix-like, Model Sumber: Campuran (closed source mixed with open source), Rilis terakhir (stable): easypeasy 1.5 -31 Agustus 2009-, Bahasa: Multilingual (lebih dari 55), Metode pembaruan: APT (front-ends available), Paket manager: dpkg, Tipe kernel: Monolithic Linux kernel, Antarmuka default: GNOME + Ubuntu Netbook Remix, Lisensi: Mixed proprietary software licenses with GNU GPL and other free software licenses, Website/download: www.geteasypeasy.com

Sayang sekali, tidak ada GIMP yang disertakan pada paket perdananya dan saya gagal menginstall melalui “sudo apt-get install bla-bla-bla”. Ketika saya coba menginstallnya melalui add/remove, ternyata keluar warning seperti berikut ini:

can-not-installHal serupa saya alami saya mencoba menginstall aplikasi lain misalnya Wine, Inkscape, dan lain-lain. Sebetulnya ini bisa diatasi dengan mengganti sumber/repo-nya, namun saya memilih melakukan instalasi manual sesuai kebutuhan saya. Salah satunya, untuk install GIMP bisa menggunakan acuan di sini.

..::tulisan asli ada di Andy.Web.Id::..

GConf Editor, Regeditnya Linux

Monday, September 14th, 2009

Kemarin, pada waktu mengikuti Buka puasa Bareng Bengawan, saya mendapatkan pertanyaan dari sesama pengguna Linux (kebetulan Ubuntu dan anak turunnya).

“Mas, mas! Gimana sih caranya ngecilin ikon di desktop?”

Nich jawabnya:

Pakai aja gconf-editor, ini semacam registry editor di Windows, tapi lebih canggih dan gampang dipahami. Manggilnya lewat Alt+F2 alias run-application dan mengetikkan gconf-editor untuk menuju ke Configuration Editor.

gconf-editor

Berbagai pengaturan bisa dilakukan lewat menu utamanya:  apps, desktop, schemas, dan system. Kalau bingung, bisa juga dilakukan pencarian melalui edit > find. Kalau masih bingung juga ya klik aja help. Beres dech!

Untuk mengecilkan ikon di desktop (juga di file browser/nautilus) klik apps > nautilus > icon_view > silahkan lihat di kotak kanan, default_zoom_level diganti dari standard menjadi small.

configuration editor

Barangkali ada yang terganggu bilamana melakukan mounting drive tiba-tiba muncul ikon baru di desktop (walaupun hanya sementara dan hilang lagi ketika dilakukan unmount). silakan klik apps > nautilus > desktop > silahkan lihat di kotak kanan, hilangkan tanda centang pada volume_visibles.

Silahkan melakukan eksplorasi untuk mengetahui pengaturan-pengaturan lain yang ada dalam gconf-editor.

Bagaimana kalau salah??? Jangan khawatir! Klik saja Edit > List Recent Keys. Balikin ke aturan semula apa-apa yang diperkirakan keliru… Gampang kan? Ini jauh lebih mudah dibanding melakukan pengaturan  registry di Windows.

(banana_cool)

Catatan: pengaturan dalam contoh di atas saya lakukan di Linux Mint (Gnome) keturunan Ubuntu.

Tampang Windows, Hati Tetap Linux

Sunday, September 6th, 2009

Repost dari tulisan Diki yang telah dipublikasikan di: Linux Mint keren yang Windowslook dan di Mengubah Linux Mint menjadi Windowslook.

Membuat tampilan Linux Mint (gnome) seperti Windows:

Klik kanan Mint Menu yang ada di panel di pojok kiri bawah:

> Preferences > hapus Button text > ganti Button icon dengan:

> gambar start yang diambil dari windows.

Copykan ke /usr/lib/linuxmint/mintMenu/ > klik kanan > open as root > paste.

> close.

Klik kanan pada panel > Background > centang Background image.

> gambarnya diganti gambar:

> taskbar dari windows > close.

Klik kanan pada Desktop > Change Desktop Background > Theme > Customize > Control > pilih Mist.
> Icons > pilih Gion atau Win7.lookalike.1.0.2 atau terserah.

> close > close.

Atur launcher panel, paling kanan adalah date & time, sebelah kirinya adalah volume control dan notification area, atau terserah.
Di sebelah kanan menu yang sudah diganti start, taruh launcher sak karepe, paling kanan adalah Window list.

Tambah huruf dari windows dengan cara copy > /usr/share/fonts/ > open as root > paste, atau $sudo apt-get install mscorefont kalau sedang nyambung ke internet.

Atur huruf:
application font = tahoma 10,
document font = verdana 10,
desktop font = tahoma 9, atau terserah yang penting mirip windows.

> close.

Klik Menu > All application > preference > mintDesktop > Desktop item:
pilih Computer dan Trash. Setelah tampil di desktop di-rename menjadi My Computer dan Recycle Bin.
Document dibuatkan shortcut di Desktop dan di-rename menjadi My Documents.
Kecilkan icon di Desktop dengan cara:
Alt+F2 > gconf-editor > apps > nautilus > icon_view > default zoom level > dari standard diganti small.

Sekarang tampilannya begini:

> keren ya?

Walaupun sudah berhasil $sudo apt-get install startupmanager tapi nggak bisa jalan. Jadinya belum bisa mengatur usplash. Sementara timeout grub disetel 0 detik dan usplash dihapus dengan cara $sudo apt-get autoremove usplash, sehingga booting dengan text supaya tidak ketahuan Linux Mint-nya.
Sayangnya, gambar start itu tidak mau mepet ke kiri, tapi nggak apa-apa.

Catatan Andy MSE | Kecakot: Diki adalah anak saya yang pertama, saat ini duduk di bangku SMP kelas IX. Dia pengguna Linux sejak 2006, pertama kali saya perkenalkan dengan RedHat dan mulai menggunakan Mandriva 2006. Tahun-tahun berikutnya berganti-ganti menggunakan IGOS Nusantara, Mandriva 2007, OpenSUSE 10.2, Fedora 10, Ubuntu 8.04, 8.10, dan 9.04, juga LinuxMint Cassandra dan Gloria. Mungkin karena daya pikirnya masih tajam, justru Diki lebih hafal perintah-perintah dasar dibanding saya. Namun, masih kurang berani dalam bereksperimen. Sampai sekarang, Diki belum bisa meninggalkan Windows untuk nge-game. Kesukaannya adalah game balap dan sepakbola. Foto lama Diki ber-Linux bisa dilihat di Kekasih Cah Bagus.

Bermain-main background grub dengan grub-gfxboot di LinuxMint

Friday, August 28th, 2009

Saya bermain-main grub-gfxboot ini di LinuxMint, salah satu distro Linux yang sejak paket perdananya sudah dilengkapi dengan grub-gfxboot. Letaknya ada di /boot/gfxmenu/ dengan dua pilihan yaitu DEW, yang file-nya ada di /boot/gfxmenu/linuxmint.message, tampilannya seperti pada gambar sebelah kiri, dan STRIPED, yang file-nya ada di /boot/gfxmenu/striped.message, tampilannya seperti pada gambar sebelah kanan.

dew-and-striped

Pemilihan mana yang akan digunakan bisa diatur di /boot/grub/menu.lst. Coba edit file tersebut dari terminal:

~$ sudo gedit /boot/grub/menu.lst

Nanti akan terbuka jendela gedit. Simak bilamana ada tulisan seperti ini:

## Graphical boot menu location
gfxmenu=/boot/gfxmenu/linuxmint.message

Silahkan ganti /boot/gfxmenu/linuxmint.message dengan /boot/gfxmenu/striped.message, maka tampilan background grub akan berubah sesuai file-file yang ada pada striped.message.

Pengin ganti gambar??? Caranya gampang! (bringit)

Silahkan tilik dulu file-file yang ada di /boot/gfxmenu/. File linuxmint.message dan stripes.message itu sepertinya file arsip biasa. Klik kanan dan lihat properties salah satu file itu. Ketahuan bahwa itu adalah file arsip cpio, yang dibuat dengan aplikasi pengarsipan cpio yang biasanya sudah disertakan dalam paketan distro Linux.

Copy salah satu file itu misalnya linuxmint.message dan taruh di sembarang folder, misalnya di /Desktop/. Klik kanan dan extract here! Hasilnya adalah folder linuxmint.message_FILES. Di dalam folder itu ada file gambar dengan nama back.jpg. Ukurannya 800×640 pixel. Hapus saja file itu dan cari gambar lain yang sedulur suka. Rename menjadi back.jpg dan masukkan ke dalam folder linuxmint.message_FILES. Jadikan kembali file arsip cpio dengan cara (mengikuti contoh letak file, bisa ke nama asli atau menjadi sembarang nama):

~$ cd Desktop/linuxmint.message_FILES
~$ sudo -s
~# ls . |cpio -o > kreasiku.sendiri

Untuk keamanan, lebih baik file kreasiku.sendiri itu dipindah saja ke folder yang untuk mengutak-utiknya butuh root privileges. Atau, langsung saja arsipkan ke folder asal dengan cara:

~# ls . |cpio -o > /boot/gfxmenu/kreasiku.sendiri
~# exit

Setelah itu edit lagi:

~$ sudo gedit /boot/grub/menu.lst

Ganti:

gfxmenu=/boot/gfxmenu/linuxmint.message

Dengan:

gfxmenu=/folder/kreasiku.sendiri

Bila diarsipkan di folder asal, berarti diganti seperti ini:

gfxmenu=/boot/gfxmenu/kreasiku.sendiri

Tutup terminal > restart… dan nikmati gambar kreasi sedulur sekalian tampil sebagai latar belakang grub!

Berikut ini kreasi saya dan Diki:

grub-gfxboot kreasi Diki dan Andy

Tips and Trick:

  • Bila komputer sedulur menggunakan widescreen, misalnya 1280×800 pixel, ada baiknya edit dulu menggunakan GIMP dan resize gambar yang sedulur suka secara proporsional sesuai lebar layar, selanjutnya scale secara tidak proporsional menjadi 800×640 pixel. Preview-nya mungkin kelihatan kurang bagus, namun sebagai background grub akan tampil secara proporsional.
  • Bila belum ada aplikasi pengarsipan cpio, silahkan ambil di http://gnu.org dan install. Untuk mengetahui cara menggunakannya, tilik dari terminal: ~$ cpio --help.
  • Bila sedulur sekalian menggunakan Ubuntu atau Blankon, silahkan ikuti cara yang ditunjukkan sedulur Muhidin di sini

..::tulisan ini juga dipublikasikan di: http://andy.web.id::..

Koneksi Modem CDMA SpeedUp 3G SU-6200U di LinuxMint

Friday, August 21st, 2009

Berbagi pengalaman oleh: AndyMSE

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan hadiah Paket Kartu IndosatM2 Truff dari Mursid, seorang blogger Bengawan. Kartu itu adalah kartu koneksi internet CDMA prabayar. Berhubung Mursid juga mendapatkannya sebagai hadiah, padahal tidak punya perangkat modem CDMA, daripada tidak dimanfaatkan diberikanlah kepada saya. Tentu saja saya senang sekali. Saya membayangkan, bisa melakukan koneksi internet yang cukup lancar melalui hape Nokia 6225 milik Bu Noor dengan menggunakan kabel DKU-5, atau menggunakan Modem CDMA Speed@Up 3G SU-6200U yang ada pada saya, bekasan dari Bu Upik yang sekarang tidak digunakan lagi karena patah antenanya.

Masalahnya… Hape Bu Noor tentu saja tidak bisa saya gunakan setiap saat, sedangkan Modem CDMA Speed@Up 3G SU-6200U itu tidak ada drivernya karena CD driver bawaannya hilang entah kemana.

Nah, semalam 20/08/2009, saya mencoba menggunakan Modem CDMA Speed@Up 3G SU-6200U di Linux Mint untuk melakukan koneksi internet.

Ketika modem dicolok ke USB dan membuka terminal untuk mengetikkan ~$ lsusb ternyata modem terdeteksi sebagai Huawei  Technologies Co., Ltd. E620 USB Modem.. (woot) 

mendeteksi dengan lsusb

Segera saja dilakukan setting WvDial dengan mengetik ~$ sudo gedit /etc/wvdial.conf dan membuatkan “Dialer” baru –dalam contoh menggunakan nama truff–. Jujur saja, saya tidak tahu semua arti dari kode-kode itu karena hanya niru dari “Dialer” yang sudah ada dan merubah sedikit saja. Yang saya tahu hanya AT+CRM=1 adalah extra setting yang biasa digunakan untuk koneksi modem CDMA, Modem type sudah jelas, Baud untuk memasukkan kecepatan maksimal, Modem menunjukkan letak modem, dan yang paling penting adalah Phone = #777, selanjutnya username dan password.

-*wvdial.conf(-etc)-gedit

Setelah selesai, konfigurasi tersebut disimpan dan ditutup untuk kembali ke terminal. Untuk melakukan konksi internet,  cukup dengan memanggil Dialer dengan mengetikkan ~$ sudo wvdial truff dan setelah menunggu sebentar, tersambunglah ke internet.

sudo wvdial truff

Untuk mengakhiri koneksi, tekan Ctrl+C, untuk menutup terminal tekan Ctrl+D atau Alt+F4

Sebelum berselancar kemana-mana, karena Kartu Truff itu masih baru, harus dilakukan aktivasi dimana khusus untuk aktivasi ini username yang digunakan adalah indosatm2@indosatm2 dengan password prabayar. Setelah aktivasi selesai,  segera disconnect dan reconnect dengan username dan password yang baru didaftarkan. (banana_cool)

Ketika saya akan mengakhiri sesi berinternet-ria, tak sengaja nge-klik ikon network connection di panel… Bhadala… (bigeyes) Ternyata saya telah melakukan langkah sudo-sudoan yang membingungkan padahal sudah disediakan langkah yang lebih mudah.  Ada “Auto Mobile Broadband (CDMA) connection” di situ.

auto-cdma-connection-click-saja

Langsung saja disconnect  untuk benar-benar mengakhiri sesi berinternet-ria untuk mencoba cara koneksi yang berbeda.

Klik kanan ikon network connection di panel > Edit Connections > Mobile Broadband > klik Auto Mobile Broadband (CDMA) connection > klik Edit.

auto-cdma-edit-connection

Di sini hanya perlu memasukkan dialing number yaitu #777, username dan password.

edit-cdma-connection

Tutup dengan cara klik Apply dan selanjutnya klik ikon network connection di panel > klik Auto Mobile Broadband (CDMA) connection dan tunggu beberapa detik saja.

established

Naaaaaaaaaaaa…. sudah konak konek kan??? (banana_rock)

Untuk mengakhiri koneksi, klik ikon network connection di panel > klik disconnect di bawah Auto Mobile Broadband (CDMA) connection.

Oh ya, Modem CDMA Speed@Up 3G SU-6200U itu bentuknya seperti ini. Antenanya yang patah telah diganti dengan seutas kawat berisolasi dengan diameter dan panjang tertentu (yang hijau itu lho!).

speedup-su-6200u

Sebagai sebuah teknologi, dibandingkan dengan GSM, ternyata CDMA tidak bisa dipandang sebelah mata.  Kecepatan koneksinya lumayan, dan lebih stabil dibandingkan GSM. Sayangnya, sebagai sebuah modem, Speed@Up 3G SU-6200U itu suka panas bila digunakan terlalu lama… Dulu, pernah beberapa kali  panas dari modem itu merusak RUIM yang digunakan, bahkan sampai melengkung.

kartu-melengkung

Herannya, lebih dari 4 jam saya gunakan untuk berbagai keperluan berinternet yang normal sebagaimana biasa saya lakukan, Modem CDMA Speed@Up 3G SU-6200U itu hanya menghangat biasa saja di Linux Mint

(panic) jangan-jangan ada penunggunya… (ninja)

———

Silahkan simak juga:

semua ini hanyalah masalah moral

Thursday, August 20th, 2009

bias-tegaralagaSudah lama aku merencanakan untuk meng’opensource’kan leptopku, namun karena satu hal dan lainnya terpaksa aku mengurungkan niatku. Namun kejadian malam itu saat kopdar bersama komunitas bengawan membuatku sadar. Malam itu ada sebuah pertanyaan dilontarkan seorang anggota komunitas kepada mas Andy, “kenapa memakai ubuntu?”, lalu mas Andy pun menjawab, “semua ini hanyalah masalah moral“.

Aku yang saat itu berada didekat mas Andy langsung sadar, perkataanya yang kecakot-cakot itu langsung menggena. Ketika dihadapkan pada sistem operasi aku tidak terlalu kena, karena sistem operasi Windows Vista yang aku gunakan berlisensi. Namun ketika dihadapkan pada software aplikasi aku jadi malu sendiri, ternyata moralku belum baik-baik banget, mulai dari Adobe Desain Premium CS3, Microsoft Office 2007, Corel X4, AntiVirus, bahkan sampai TuneUp Utilities 2009 pun hasil crack-crack’an. Hampir 90% software yang aku gunakan adalah software yang ilegal, dan itu tradisi yang sudah aku pelihara sejak 3 tahun memegang alat bernama komputer tersebut.

Sebenarnya ini hanyalah masalah legal dan ilegalnya sebuah software, kalaupun softwarenya itu bukan opensource namun software itu legal itu tidak masalah. Kalau ada program legal yang gratis ngapain harus bayar jutaan rupiah….??? Bukan berarti aku membenci Microsoft, aku sangat kagum akan strategi dagang Microsoft yang mampu merajai pangsa pasar sistem operasi, bahkan sampai saat ini. Mereka menutup kode sumbernya karena mereka juga butuh uang untuk menggaji programmernya, kalu kode sumbernya dibuka darimana mereka dapat uang karena setiap orang berhak memcopy paste kodenya. Namun bukan berarti juga opensource adalah identik dengan kata gratis…

Opensource tidaklah gratis kawan, namun sebagian orang beranggapan kalau segala sesuatu yang menyangkut opensource itu gratis. Opensource adalah sebuah program yang kode sumbernya dibuka, sehingga setiap orang berhak mengeditnya, menyempurnakannya, melaporkan bug-bugnya maupun menambahi hal yang dirasa kurang dengan tetap menyertakan penulis kode pertamanya. Menurutku itulah yang membuat perkembangan opensource sangat pesat, karena ada ribuan programmer diseluruh dunia yang siap membantu perkembangan program tersebut. Siapa sangka dengan industri opensource mampu membuat multimilyuner perusahaan seperti Novell (OpenSuse), Canonical (Ubuntu) dan lain sebagainya. Boleh saja programmer opensource menetapkan harga untuk program yang dia tulis dan menjualnya keperusahaan-perusahaan seperti diatas, karena programmer juga manusia, butuh makan, tempat tinggal, rokok, maupun untuk mengkoneksikan komputernya ke internet.

Kembali keleptop, sebenarnya kejadian aku meng’opensource’kan leptopku adalah sebuah kejadian yang benar-benar tidak sengaja. Aku mendapat pinjaman OpenSuse dari temenku, aku pengen nyobain juga rasanya pake OpenSuse. Setelah proses instalasi selesai, grub pun sukses mendetect Windows Vista dan OpenSuse. Setelah puas memperawani OpenSuse aku pun berniat untuk login ke Windows karena aku rasa OpenSuse terlalu kaku, tidak seperti Ubuntu. Namun winload.exe cannot load… wadepak…….!!! entah karena apa Windows Vista gagal booting, bahkan belon sampe POST. Karena tingkat frustasi yang lagi tinggi aku langsung format Windows dan OpenSusenya, kuganti dengan Ubuntu 8.10 *kiriman dari shipit*, dengan tetap meninggalkan data-data dan file multimedia *dunia hampa tanpa music*. Aku sadar aku nantinya akan direpotkan akan kompabilitas software pihak ketiga yang tidak menjadi masalah kalau aku memakai Windows, namun tidak apa-apalah, semua itu butuh proses, pembelajaran memang membutuhkan pengorbanan.

Aku hanya mempunyai sebuah impian yang agak gila kelak, seandainya saja industri close source seperti Microsoft bisa membantu penilitian untuk industri opensource seperti linux pastinya akan sangat menakjubkan, walaupun hanya sekedar donasi. Sehingga tidak ada lagi perpecahan diantara sesama industri pengembang perangkat lunak tersebut. Bayangkan saja andaikan 2 industri diatas bisa bersatu, dengan sumber daya manusia yang dimilikinya, dengan teknologi yang dimilikinya, dunia akan menjadi lebih baik dengan teknologi yang diusung mereka. Huh sebuah impian yang gila memang, namun bukanlah semua kenyataan berawal dari sebuah impian…

Ubuntu Linux for Human Being…

tulisan asli ada di: www.tegaralaga.com oleh Bias Tegaralaga

Chromium Browser | Google Chrome untuk Linux

Tuesday, August 11th, 2009

logo-chromiumMungkin banyak sedulur yang terpesona oleh Google Chrome, browser ringkas dan enteng keluaran Google. Sayang sekali, sampai sekarang hanya tersedia versi untuk Windows saja. Bagi pengguna Linux, yang ingin menggunakannya, ternyata ada Chromium. Silahkan coba ambil dari sini! Ekstrak saja file .zip-nya, langsung panggil executable file “chrome” untuk mencicipinya.

Chromium is an open-source browser project that aims to build a safer, faster, and more stable way for all Internet users to experience the web.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, apa beda Google Chrome dengan Chromium? Bisa jadi saja saya salah mengartikan, namun ketika pertama kali membuka Chromium, terpampang tulisan berikut ini:

Chromium is an open source browser project. Google Chrome is a browser from Google, based on the Chromium project (more…)

SwiftFox | Firefox 3.5.1

Thursday, July 23rd, 2009

swiftfox-3.5.1Baru satu hari kembali menggunakan Firefox 3.5.1 (bila diinstall dari repo Ubuntu namanya menjadi Shiretoko 3.5.1), saya kembali mendapatkan kabar mengenai SwiftFox dari mas Riyogarta di sana, yang kata kabar tersebut lebih maknyus. Jujur saja, saya agak kurang sreg dengan Firefox 3.5 yang pernah saya coba selama 2 minggu semenjak 3 Juli lalu. Alasannya karena relatif berat di mesin saya yang masih kelas seleyon ini. Terasa banget bila membuka banyak jendela, apalagi mengandung video atau gambar-gambar bergerak sekelas animasi sekalipun.

Di sini saya mengalami kebingungan. Tetap menggunakan Firefox 3.0.11 atau mengikuti perkembangan untuk menggunakan Firefox 3.5.1. Saya putuskan untuk maju terus sampai mesin yang saya pakai ini benar-benar tidak mendukung aplikasi baru. Dan pilihan saya jatuh ke SwiftFox, bukan Shiretoko. (more…)

Shiretoko… oh Shiretoko…

Tuesday, July 21st, 2009

Firefox 3.5 — code-named Shiretoko — is set to launch on Tuesday, June 30th!  How cool would it be if we could set off fireworks worldwide to celebrate?  We’d light up the night country by country, town by town, to show the world just how amazing Firefox is.  Just like New Year’s, only better — since you get to see who “launched” the fireworks.  We’re going to make a big bang by spreading Firefox with Social Media.  And, we need your help!… lanjutannya silahkan baca sendiri di sana!..

Tentu saja saya sudah terlambat mengikuti Kampanye Bersama Peluncuran Shiretoko atau Mozilla Firefox 3.5 itu. (more…)

Cara Gampang Install Font Windows di Ubuntu

Saturday, July 18th, 2009

Teman saya di Semarang yang baru saja menginstall Ubuntu (dualboot) di laptopnya bertanya kepada saya, bagaimana caranya menambah font di Ubuntunya. Dia ingin huruf-huruf yang ada di Windows-nya juga ada di Ubuntu. Selama ini dia kesulitan bilamana ada dokumen lama yang dibuat di Windows dan sekarang harus dibuka/diedit di Ubuntu. Banyak font yang berbeda dan ini seringkali membuat format file yang sudah bagus menjadi berbeda bahkan kacau-balau.

Tentu saja saya sangat mendukung kegigihannya untuk selalu menggunakan Free Operating System and Softwares (FOSS), (applause) walaupun saya juga garuk-garuk kepala karena bukan ahli kok ditakoni. (doh)

Jawaban saya sederhana, cukup dengan dua langkah mudah. (more…)