Archive for October, 2009

Easy Peasy, Ubuntu untuk Netbook

Saturday, October 17th, 2009

Oleh-oleh Andy MSE dari Gunung Kelir:

Kesuksesan pak Sawali Tuhusetya menggunakan Ubuntu 9.04 membuat saya mikir-mikir, apa nggak terlalu kecil menu-menu Ubuntu di layar se-mini punya netbook itu? Ini menjadikan saya penasaran untuk mencari-cari distro Linux untuk netbook yang cukup powerfull.

Pada waktu menikmati banjir benwit di Gunung Kelir beberapa waktu lalu, saya sempat mengunduh Easy Peasy update terbaru 31 Agustus 2009 yaitu Easy Peasy 1.5 yang berbasis pada Ubuntu 9.04. Saya pun menginstallnya di laptop jadul Acer Travelmate 2423 menggunakan ISO sebesar 825.2MB yang saya masukkan ke dalam startup flashdisk.   Senyampang Ubuntu 9.10 masih dalam penantian selama beberapa hari ke depan, tidak ada salahnya mencoba Easy Peasy 1.5 ini. Lagipula rilis Easy Peasy biasanya diterbitkan lebih lambat 1-2 bulan mengikuti Ubuntu, induknya.

Easy Peasy adalah distro Linux untuk netbook yang dikembangkan di Norwegia oleh Jon Ramvi sejak Desember 2007. Awalnya bernama Ubuntu Eee yang merupakan modifikasi Ubuntu untuk mendukung Asus EeePC. Setahun kemudian, barulah berganti nama menjadi Easy Peasy, sebagai tindak lanjut atas komplain dari Canonical kepada Jon Ramvi pada 10 September 2008 berkaitan dengan penggunaan nama, logo, url, dan merek dagang.

Ini justru meneguhkan Easy Peasy berdiri sebagai distro tersendiri yang berbasis Ubuntu dengan rilisnya yang pertama Easy Peasy 1.0 pada 5 Januari 2009.

inside-my-computer

Walaupun tetap berbasis pada Gnome, tampilan antarmuka Easy Peasy yang disebut Netbook Remix, sangat cocok untuk laptop mini yang berlayar kecil. Ikon-ikon menu tertata rapi di kiri dan kanan desktop tidak perlu nge-klik ikon menu di panel. Ikon-ikon aplikasi akan muncul di bagian tengah mengikuti klik ikon menu di sebelah kiri, sedangkan klik ikon menu di sebelah kanan akan memunculkan jendela. Pada sceenshot di atas, karena Travelmate itu bukan netbook, tampilan Easy Peasy  tampak longgar di layar berukuran 14.

Easy Peasy 1.5 update terbaru ini membawa sejumlah perbaikan termasuk banyak paket aplikasi aktual seperti OpenOffice 3.1 dan kernel Linux 2.6.30. Pengguna Easy-Peasy pun dapat memanfaatkan repositori Ubuntu untuk melakukan pembaruan/update. Saat ini sudah tersedia versi 1.6 (unstable), dan pengembangnya merencanakan versi Easy Peasy 2.0 yang nantinya memiliki fitur baru seperti Social Desktop, Single-Sign-on dan sinkronisasi data dengan sistem lain.

Berikut ini spesifikasi Easy Peasy:

Perusahaan/pengembang: easypeasy community, Keluarga OS: Unix-like, Model Sumber: Campuran (closed source mixed with open source), Rilis terakhir (stable): easypeasy 1.5 -31 Agustus 2009-, Bahasa: Multilingual (lebih dari 55), Metode pembaruan: APT (front-ends available), Paket manager: dpkg, Tipe kernel: Monolithic Linux kernel, Antarmuka default: GNOME + Ubuntu Netbook Remix, Lisensi: Mixed proprietary software licenses with GNU GPL and other free software licenses, Website/download: www.geteasypeasy.com

Sayang sekali, tidak ada GIMP yang disertakan pada paket perdananya dan saya gagal menginstall melalui “sudo apt-get install bla-bla-bla”. Ketika saya coba menginstallnya melalui add/remove, ternyata keluar warning seperti berikut ini:

can-not-installHal serupa saya alami saya mencoba menginstall aplikasi lain misalnya Wine, Inkscape, dan lain-lain. Sebetulnya ini bisa diatasi dengan mengganti sumber/repo-nya, namun saya memilih melakukan instalasi manual sesuai kebutuhan saya. Salah satunya, untuk install GIMP bisa menggunakan acuan di sini.

..::tulisan asli ada di Andy.Web.Id::..

Aksi-aksi Pendekar Open Source di Lembah Google

Sunday, October 11th, 2009

Siapa bilang software open source sulit diaplikasikan sebagai sistem operasi komputer kita? Siapa pula bilang driver-driver pendukung operasi sulit diinstal? Cobalah sesekali pergi ke lembah google! Masukkan kata kunci semacam open source, linux, ubuntu, dan sejenisnya di search engine! Di sana, kita akan menyaksikan kiprah para pendekar open source yang siap berbagi dengan berbagai jurus jitu dalam mengoptimalkan penggunaan software yang bebas dan terbuka itu. Jurus apa pun bisa kita adaptasi dan kita terapkan untuk mengoptimalkan kinerja komputer yang berbasis open source.

screenshootscreenshootscreenshoot

Terhitung sudah lebih dari tiga pekan saya menikmati ubuntu 9.04. Dengan menggunakan ext4 sebagai file system-nya, kinerja netbook jadi lebih cepat loadingnya. Saya hampir tidak menemukan kendala yang cukup berarti dalam mengupdate fitur dan software yang ada. Dengan menggunakan fitur update manager, semua software mutakhir bisa kita nikmati dengan mudah dan nyaman, tanpa dirisaukan ancaman virus yang selama ini masih menjadi hambatan bagi pengguna windows. Atau, bagi pengguna ubuntu yang suka menggunakan papan terminal bisa merapal –meminjam istilah Mas Suryaden– mantra-mantra jitu untuk menginstal maupun meng-update software.

Demikian nyamannya menggunakan ubuntu, sampai-sampai saya telah nekad memutuskan untuk menggunakan 100% booting open source. Kendala driver sound, video, atau printer yang selama ini saya rasakan, kini sudah tak ada lagi. Dengan mengadaptasi jurus-jurus sakti para pendekar open source di lembah google, saya bisa melepaskan diri dari cengkeraman software OS berharga mahal. Saya bisa dengan mudah dan nyaman menikmati koleksi video dan MP3 lewat Movie Player. Untuk memodifikasi gambar, saya bisa menggunakan GIMP Image Editor. Hmmm … apalagi yang kurang, ya, untuk aplikasi sederhana yang selama ini saya pakai?

Memang harus diakui, menggunakan software open source butuh tekad dan kemauan untuk belajar. Ia tidak sama dengan windows yang semuanya sudah siap pakai. Oleh karena itu, saya juga telah nyantrik di komunitas Solve With IT, tempat nongkrong para pendekar perlinukan, semacam Mas Pradna, Mas Andy MSE, Mas Suryaden, Mas Mahendra, Mas Ciwir, Mas Felani, Mas Agus, Mas Dwi, Mas Iqbal, Mas Endar, Mas Luky, Mas Nuruli, atau teman-teman pengguna open source yang lain, untuk ngangsu kawruh dalam merapal mantra dan menerapkan jurus-jurus jitu perlinukan. Di padepokan inilah saya bisa leluasa memelototi jurus-jurus sakti sang pendekar, meski saya harus menahan rasa malu, karena sekali pun belum pernah bisa mengembangkan jurus-jurus sakti yang mereka ajarkan.

Ayo, siapa lagi mau menyusul? ***

Menulis Arab di OpenOffice Writer

Sunday, October 4th, 2009

Beberapa waktu yang lalu, ketika lagi rame membahas Sabily 9.04. Ada beberapa pertanyaan : “apakah bisa buat nulis arab?”

Ndak tau Sabily ada applikasi khusus buat nulis arab ato ndak. Ubuntu, Linuxmint dan yang lain bisa saja buat nulis arab di openoffice writernya.
(more…)