From Windows to Ubuntu

Saya berkenalan dengan Linux adalah sekitar tahun 2007 lalu, yakni berkenalan dengan Mandriva. Diperkenalkan oleh Blogger Nasional. Akan tetapi saya pada waktu itu masih belum bisa menikmati keunggulan open source daripada Windows. Banyak hal pekerjaan bersentuhan dengan aplikasi mesin Jendela tersebut. Akhirnya, Mandriva-pun cuman bertahan saja di laptop tanpa pernah saya sentuh, sampai akhirnya laptop dipakai oleh orang lain dan saya berganti laptop yang murni 100% ber-Jendela.

Baru pada beberapa bulan lalu saya kembali tertarik dengan open source. Pilihan jatuh ke Ubuntu. Dan atas bantuan Blogger Nasional pula saya menginstal laptop ini dengan Ubuntu 9.04 agar tetap bisa dual-boot dengan Windows, sebab ada pekerjaan tertentu yang harus ber-Jendela. Semakin menyelam saya semakin tertarik dan semakin penasaran saja. Dan meski baru seumur jagung menggunakan Ubuntu saya dapat katakan lebih enakan pake ini dech. Lho kok bisa?

Pertama, no virus. Saya sering berhubungan dengan flashdisk karena memang selalu terjadi perpindahan data dari laptop teman-teman ke saya. Flashdisk yang dipakai sebagai tidak semuanya steril virus, dan komputer kantor harus diinstall ulang berkali-kali gara-gara virus itu. Dengan open source, virus Windows tidak bisa berjalan. Jika di dalam flashdisk ada aplikasi yang mencurigakan langsung saja saja pithes. Namun ini menjadi kelemahan pengguna open source karena tidak pernah tahu virus teranyar dan anti virus apdetan terbaru (rofl)

Kedua, memudahkan pengguna. Proses instalasinya lebih cepat dari pada Windows, hanya butuh waktu kurang dari 30 menit, bandingkan dengan Windows yang butuh hampir 2 jam. Dan ketika menginstall Ubuntu, saya tidak perlu mengintall driver tambahan untuk hardware dan software standar untuk bekerja. Artinya begitu selesai instalasinya bisa langsung dipakai, bahkan beberapa hardware yang tidak jalan di Windows bisa berjalan lancar disini. Ketiga, mudah dioprek dan enteng. Kustomisasi pada Linux mudah dilakukan dan tidak memakan resource seperti di Windows. Seperti mengubah theme, mengubah compiz dekstop maupun menambahkan aplikasi lain seperti conky dll. Mudah dilakukan dan banyak petunjuknya bertebaran di internet. Dan yang penting tidak memakan resource dan memory sehingga tidak bikin lambat laju mesin. Keempat, lebih fleksibel dan kompatibel. Artinya, software aplikasi berbasis Windows dapat dibukak disini dan bahkan dapat dieksekusi dan jalankan juga.

Kelima, gratis dan bebas dosa. Yang namanya gratisan memang nyenengkeh. Semua software aplikasi disediakan bebas digunakan dan bebas diotak-atik sendiri. Kenapa bebas dosa? Karena gratis maka bebas diambil dan digunakan tanpa harus membajaknya. Tanpa membajak berarti tidak mencuri. Tidak mencuri maka tidak berdosa. Itulah alasan saya mengapa ber-urbanisasi dari Windows ke Ubuntu, sebagaimana prinsip urbanisasi adalah mencari yang lebih baik. Dari “pelosok desa” pindah ke “kota”.

juga dipublikasikan disini

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • HelloTxt
  • LinkedIn
  • PDF
  • Ping.fm
  • SphereIt
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Twitter
  • Yahoo! Bookmarks

Tags: ,

33 Responses to “From Windows to Ubuntu”

  1. gedeblog says:

    sepakat kang ciwir… (cozy)

    [Reply]

  2. omagus says:

    weh postingane koq temane podo karo aku iki piye jal (doh) .-= omagus“s last blog ..Migrasi ke Ubuntu sabily =-.

    [Reply]

  3. suryaden says: