Solve With IT

20/08/2009

semua ini hanyalah masalah moral

bias-tegaralagaSudah lama aku merencanakan untuk meng’opensource’kan leptopku, namun karena satu hal dan lainnya terpaksa aku mengurungkan niatku. Namun kejadian malam itu saat kopdar bersama komunitas bengawan membuatku sadar. Malam itu ada sebuah pertanyaan dilontarkan seorang anggota komunitas kepada mas Andy, “kenapa memakai ubuntu?”, lalu mas Andy pun menjawab, “semua ini hanyalah masalah moral“.

Aku yang saat itu berada didekat mas Andy langsung sadar, perkataanya yang kecakot-cakot itu langsung menggena. Ketika dihadapkan pada sistem operasi aku tidak terlalu kena, karena sistem operasi Windows Vista yang aku gunakan berlisensi. Namun ketika dihadapkan pada software aplikasi aku jadi malu sendiri, ternyata moralku belum baik-baik banget, mulai dari Adobe Desain Premium CS3, Microsoft Office 2007, Corel X4, AntiVirus, bahkan sampai TuneUp Utilities 2009 pun hasil crack-crack’an. Hampir 90% software yang aku gunakan adalah software yang ilegal, dan itu tradisi yang sudah aku pelihara sejak 3 tahun memegang alat bernama komputer tersebut.

Sebenarnya ini hanyalah masalah legal dan ilegalnya sebuah software, kalaupun softwarenya itu bukan opensource namun software itu legal itu tidak masalah. Kalau ada program legal yang gratis ngapain harus bayar jutaan rupiah….??? Bukan berarti aku membenci Microsoft, aku sangat kagum akan strategi dagang Microsoft yang mampu merajai pangsa pasar sistem operasi, bahkan sampai saat ini. Mereka menutup kode sumbernya karena mereka juga butuh uang untuk menggaji programmernya, kalu kode sumbernya dibuka darimana mereka dapat uang karena setiap orang berhak memcopy paste kodenya. Namun bukan berarti juga opensource adalah identik dengan kata gratis…

Opensource tidaklah gratis kawan, namun sebagian orang beranggapan kalau segala sesuatu yang menyangkut opensource itu gratis. Opensource adalah sebuah program yang kode sumbernya dibuka, sehingga setiap orang berhak mengeditnya, menyempurnakannya, melaporkan bug-bugnya maupun menambahi hal yang dirasa kurang dengan tetap menyertakan penulis kode pertamanya. Menurutku itulah yang membuat perkembangan opensource sangat pesat, karena ada ribuan programmer diseluruh dunia yang siap membantu perkembangan program tersebut. Siapa sangka dengan industri opensource mampu membuat multimilyuner perusahaan seperti Novell (OpenSuse), Canonical (Ubuntu) dan lain sebagainya. Boleh saja programmer opensource menetapkan harga untuk program yang dia tulis dan menjualnya keperusahaan-perusahaan seperti diatas, karena programmer juga manusia, butuh makan, tempat tinggal, rokok, maupun untuk mengkoneksikan komputernya ke internet.

Kembali keleptop, sebenarnya kejadian aku meng’opensource’kan leptopku adalah sebuah kejadian yang benar-benar tidak sengaja. Aku mendapat pinjaman OpenSuse dari temenku, aku pengen nyobain juga rasanya pake OpenSuse. Setelah proses instalasi selesai, grub pun sukses mendetect Windows Vista dan OpenSuse. Setelah puas memperawani OpenSuse aku pun berniat untuk login ke Windows karena aku rasa OpenSuse terlalu kaku, tidak seperti Ubuntu. Namun winload.exe cannot load… wadepak…….!!! entah karena apa Windows Vista gagal booting, bahkan belon sampe POST. Karena tingkat frustasi yang lagi tinggi aku langsung format Windows dan OpenSusenya, kuganti dengan Ubuntu 8.10 *kiriman dari shipit*, dengan tetap meninggalkan data-data dan file multimedia *dunia hampa tanpa music*. Aku sadar aku nantinya akan direpotkan akan kompabilitas software pihak ketiga yang tidak menjadi masalah kalau aku memakai Windows, namun tidak apa-apalah, semua itu butuh proses, pembelajaran memang membutuhkan pengorbanan.

Aku hanya mempunyai sebuah impian yang agak gila kelak, seandainya saja industri close source seperti Microsoft bisa membantu penilitian untuk industri opensource seperti linux pastinya akan sangat menakjubkan, walaupun hanya sekedar donasi. Sehingga tidak ada lagi perpecahan diantara sesama industri pengembang perangkat lunak tersebut. Bayangkan saja andaikan 2 industri diatas bisa bersatu, dengan sumber daya manusia yang dimilikinya, dengan teknologi yang dimilikinya, dunia akan menjadi lebih baik dengan teknologi yang diusung mereka. Huh sebuah impian yang gila memang, namun bukanlah semua kenyataan berawal dari sebuah impian…

Ubuntu Linux for Human Being…

tulisan asli ada di: www.tegaralaga.com oleh Bias Tegaralaga

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • HelloTxt
  • LinkedIn
  • PDF
  • Ping.fm
  • SphereIt
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Twitter
  • Yahoo! Bookmarks

5 Comments

  1. mohon maaf, sebetulnya ini hanyalah postingan narsis (banana_cool)

    @kecakot,
    narsis itu sehat asal jangan berlebihan…
    segala sesuatu yang berlebihan selalu tidak baik… B-)

    Comment by kecakot — 20/08/2009 @ 12:02

  2. tidak perlu harus bersatu…
    bersatu seringkali cuma melahirkan monopoli, dan itu tak sehat…
    mematikan yang kecil…

    biarkan berkembang biak menjadi banyak dengan aneka perbedaan yang memberikan banyak pilihan yang beragam…

    seperti taman sarinya kehidupan yang dipenuhi aneka bunga dengan berbagai warna…
    indah bukan???
    itempoeti´s last blog ..Siapakah Musuh Kita Yang Sesungguhnya? My ComLuv Profile

    Comment by itempoeti — 20/08/2009 @ 12:23

  3. moral opo mural,
    ketoke mural iki, karena hanya narsis… apa iya sih mereka bisa bersanding, wwong biasanya kalo uji coba pake opensource terus kalo mau jual ya ditutup kodenya… (lmao) suryaden´s last blog ..tidak semudah membalikkan tangan My ComLuv Profile

    @suryaden, ooh… si pitu itu??? sourcecode-nya tetep ditutup kang, cuma lisensinya yang dibebasin saat ujicoba… X-( Andy MSE´s last blog ..Warna-warni Bendera Kita My ComLuv Profile

    Comment by suryaden — 20/08/2009 @ 13:10

RSS feed for comments on this post.

Sorry, the comment form is closed at this time.

Powered by WordPress